22 May 2010

Demokrasi


- Kongres II Partai Demokrat menjadi ujian demokratisasi bagi Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden RI yang menjadi founding father Demokrat itu, diharapkan memberikan kebebasan pada kader pemegang hak suara untuk menentukan pilihannya, tanpa arahan dan sinyal "restu" kepada satu dari tiga petarung : Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie.

"Pemilihan Ketua Umum ini menjadi ujian terbaik bagi SBY, sejauh mana dia menghayati demokrasi. Kalau meletakkan pemilihan ini pada pemilih, untuk memilih pilihannya secara bebas, maka dia orang demokratis," kata Pengamat Politik Universitas Gadjah Mada, Sigit Pamungkas.

Akan tetapi, lanjut dia, "Jika di titik akhir SBY memberi restu, maka tidak demokratis. Restu yang berjalan, menjadikan Demokrat seperti partai kerajaan."

Dalam pengamatan Sigit, secara sepintas SBY ingin memperlihatkan bahwa ia menjunjung demokratisasi dengan mempersilakan kader-kader Demokrat untuk maju menjadi calon ketua umum. Di sisi lain, SBY dinilai tengah "berkompromi" dengan kepentingannya.

"Dia sedang mencari formula, agar yang terpilih orang yang dia inginkan, tapi terlihat demokratis. Selain itu, kepentingannya tidak terganggu. Formula terbaik adalah dengan mengkompromikan kepentingannya dengan demokratisasi," ujar dia.

Pengamat Politik Universitas Parahyangan, Asep Warlan Yusuf, berpendapat, SBY sebenarnya sudah mengantongi nama calon yang diinginkannya. Tetapi, kata Asep, SBY harus membuktikan bahwa ia memperlakukan sama seluruh calon yang bertarung.

"Dia harus membuktikan tidak ada anak emas dan anak tiri. Kalau untuk menang harus memakai restu SBY, maka akan menjadi tanda tanya soal demokratisasi yang selama ini didengungkannya," kata Asep

No comments: