25 May 2010

IKHWAN


Januari silam, Ikhwan, gerakan Islam terbesar dan paling berpengaruh di Timur Tengah, menggulirkan regenerasi berikutnya. Muncul berbagai macam pertanyaan yang mungkin terlalu umum: Kemanakah Ikhwan bergerak pasca kepimpinan Mahdi Akef?

Spekulasi tentu saja berhembus, meskipun relatif sedikit, namun tampaknya beberapa trend yang terus terjadi dalam tahun-tahun belakangan ini, cukup menunjukkan kemana kebijakan Ikhwan melaju.

Konsensus yang muncul adalah bahwa pemilihan Mohammed Badie, seorang profesor yang sangat konservatif, tampaknya merupakan jawaban langsung dari berbagai macam kegelisahan yang semakin mencuat. Kurang dari dua tahun lalu, argumen-argumen yang sama dibuat ketika Ikhwan di Yordania, untuk pertama kalinya dalam sejarah, memilih seorang pemimpin yang berasal Palestina.

Hammam Said sangat terlihat sebagai seseorang yang pro-Hamas yang berapi-api dan konservatif. Matthew Levitt dan David Schenker--dua orang analisis--langsung memberikan rambu-rambu bahwa Ikhwan "tidak bisa lagi dianggap 'loyal' kepada kerajaan." Tapi, sayangnya, pergeseran strategis tidak pernah terjadi. Sebaliknya, setelah terpilih, Said hanya kencang dalam retorika, menekankan isu-isu domestik, dan mengulurkan tangan sepenuhnya kepada pemerintah Yordania.

Alarm yang sama tampaknya juga menyelimuti di balik pemilihan Badie yang merupakan rekan Sayyid Quthb di era 1960-an.Tidak seperti pihak-pihak anti-sekuler lainnya, Ikhwan tidak pernah tergantung pada individu dan kepribadian, melainkan pada struktur organisasi dan kelembagaan yang kuat.

Selain itu, Ikhwan juga telah lama mengangkat laporan ideologi definitif tentang sejumlah isu yang diperdebatkan, termasuk hak-hak perempuan dan pluralisme politik (tahun 1994). Pada tahun 2004, Ikhwan mengumumkan dengan kampanye besar tentang "inisiatif reformasi," di mana mereka menegaskan kepada publik tentang banyak komponen dalam dasar kehidupan demokratis.

Preseden dari dokumen-dokumen masa lalu itu tampak jelas dalam pidato Badie Januari lalu. Dia dengan jelas menggarisbawahi dengan tinta tebal tentang catatan konsiliasi, dan menekankan komitmen Ikhwan pada kesetaraan perempuan di bawah hukum, perlindungan hak-hak minoritas, dan pentingnya reformasi demokratis.

Badie tampaknya berusaha untuk ajeg ke dalam namun juga mulai berlaku tegas terhadap luar. Ini adalah persepsi penting, tentu saja. Sejak serangan 11 September, dan terutama karena "agenda kebebasan pemerintahan Bush," Ikhwan telah terbukti sangat sensitif terhadap kritik luar. Episode ini tidak terkecuali, namun sesuatu yang tidak terhindarkan; Ikhwan sudah terlalu jauh melentur dalam sikap politiknya.

Menariknya, sebuah langkah kejutan yang kurang mengejutkan, Badie menunjuk Mahmoud Hussein yang relatif tidak diketahui, bukan Ezzat Mahmoud, sebagai Sekretaris Jenderal, salah satu posisi dan jabatan yang paling berpengaruh. Ini keberanian Badie.

Sebagai jurnalis dan mantan anggota Ikhwan, Monem Abdel Mahmoud mengatakan, "Sepertinya Badie ingin memberi kesan dia akan independen dan mengembangkan sumber karismanya sendiri." Sesuatu yang tidak pernah ada dalam kamus Ikhwan tentu saja. Badie tampaknya ingin mulai menghapus citra Ikhwan sebagai Erdogan Mesir.

Akankah pemilu internal Ikhwan ini memberikan perbedaan? Banyak pihak yang meragukan. Ikhwan, saat ini dengan pemilu Mesir di depan mata, tampaknya sudah terjebak terhadap keadaan yang ada. Seperti yang disindir Mahmoud, "Ikhwan tidak akan pernah meninggalkan arena politik, tapi pertanyaannya; siapa yang akan memungkinkan Ikhwan untuk berpartisipasi?" Jelas, bukan rezim Mesir, yang telah meberlakukan satu tindakan tegas pada kelompok yang paling luas pengaruhnya sejak 1960-an.

Esam al-Erian, seorang reformis terkemuka Ikhwan yang duduk di Majelis Syuro sambil tertawa, mengatakan: "Jika segala sesuatunya berjalan sebagaimana adanya sampai tahun 2010, Ikhwan tidak akan mempunyai kursi sama sekali." Esam sedikit berlebihan, tapi mungkin juga tidak.

Ikhwan saat ini memiliki pangsa yang tengah bergelut dalam kesulitan-kesulitan internal yang mengakibatkan beberapa pihak meragukan komitmen mereka pada reformasi. Dan itulah yang harus diselesaikan oleh Badie.

No comments: